Wednesday, April 20, 2011

Jadi pagi ini ceritanya saya baca berita. Bukan ceritanya lah. Emang baca berita. Ada artikel berbunyi "Perlu Cara Khusus Tangani Pesta Seks Bocah di Palembang". Yaiyalah saya syok. "Pesta Seks Bocah"? Maksudnya? BOCAH? BOCAH UDAH MIKIR SAMPE SITU? Kok bisa?

Saya buka beritanya, dan saya baca, ini cuplikannya;


Pas saya baca si anggota DPR ini suggest anak-anak itu "diteliti", saya setuju. "Oh, bener juga. Mungkin psikologinya ada yang salah. Mungkin lingkungan dia dibesarkan kurang bener. Mungkin kurang edukasi soal hal itu."

Tapi pas dia bilang kalau sumber masalahnya dari "HP" dan "internet" dan penggunaannya harus dibatasi/diawasi, sampai menyarankan warnet cuma boleh SMU keatas ini menurut saya salah, SEKALI LAGI.

Yang namanya media informasi itu benar adanya bisa di abuse, tapi BISA JUGA DIGUNAKAN DENGAN BAIK DAN BENAR. Gimana caranya? YAH DIDIKLAH UNTUK DIGUNAKAN DENGAN CARA YANG BAIK DAN YANG BENAR

Tapi sebelum kita menyalahkan media informasi, kenapa ngga kita tarik dulu cikal bakal masalahnya; KURANGNYA PENDIDIKAN SEKSUAL DI INDONESIA, dan saya dari kemaren kayanya ngga berhenti karena sejak kasus Ariel kemaren barulah terlihat jelas kalau Indonesia terlalu cuek atau tidak berani buka pikiran, atau apalah sejuta alasan mereka yang saya ngga tau, intinya mereka mengabaikan pentingnya edukasi seks. Kayanya kita ngga mau belajar dari negara-negara di benua Afrika dimana kasus perkosaan ngga terkontrol karena kurangnya edukasi seks, begitu pula penularan infeksi penyakit seksual merambah gara-gara kurangnya edukasi seks. Sekarang negara-negara hitam di Afrika mulai dan MAU bangkit karena tragedi tersebut. Pendidikan seks disebar ke pelosok-pelosok, ke SD-SD. Pengaman anti pemerkosaan disebar, alat pengaman dianjurkan. Terus kita kapan? Apa kita mau gantiin posisi negara-negara tersebut dalam hal kurangnya pendidikan seks?

Saya tonton disebuah film dokumenter, edukasi seks sudah dijadikan kurikulum di Belanda dan dilakukan sedari SD. Guru-guru yang berpastisipasi dengan baiknya sabar dan telaten. Mindset mereka adalah untuk mendidik anak-anak tersebut supaya tidak terjerumus bahaya seks, dan terbukti kalau ketika dewasa mereka lebih siap dalam perilaku seksual mereka.

Terus seks tabu, dianggap dosa atau apalah. Saya tidak bermaksud menyekulerkan paham agama, tapi seinget saya ngga ada agama yang bilang seks itu tabu. Dipersilahkan tapi ada aturannya, itu aja kok. Nah, gimana supaya kita bisa mengikuti aturan tersebut? Yah kasih tau lah seks itu kaya apa, secara biologis, psikologis, dan ilmu sosial. Seks itu kan bukan cuma berarti aksi mesum. Inilah yang salah sama jalan pikiran orang Indonesia pada umumnya. Seks = mesum, mesum = guilty pleasure.

Dan saya baca komen di link berita tersebut;


Etikanya, yang namanya media informasi formal seperti detik.com ini harusnya bisa jadi media diskusi. Tapi memang pada dasarnya internet itu isinya cuma troll dan orang Indonesia lebih bodoh dari troll-troll pada umumnya, inilah yang tertera di kolom komentar. Budaya troll mo dipelihara toh? Bukannya prihatin atau gimana malah mempos contoh yang kurang layak. Terus yang saya ngga ngerti, apa pula hubungannya sama Amerika Serikat dan Israel? Mo Amerika Serikat dan Israel ngga bikin konspirasi pun, kalau Indonesia memilih untuk tetep cuek dan bodoh ya tetep aja bodoh. Kali mungkin kalau mereka bikin konspirasi beneran, seneng kali mereka Indonesia bisa dibego-begoin. Ini mah masalah moral kita pada dasarnya dan ngga ada hubungannya sama negara lain, bikin konspirasi atau punya konstipasi, atau apalah! Ngga juga hubungannya sama ramalan tentang kaum Yahudi atau apapun. Kalau merasa lebih punya moral dari mereka, kenapa dong begini? Apalagi troll dibawah yang pingin ikut-ikutan "pesta". Becanda? Okelah. Membuat kesan bodoh? Iya juga.

(Yes, troll. I'm troll-flaming you.)

Memalukan lah intinya. Dan saya ngga cape dan pasti selalu terpancing amarah karena hal ini karena kok kayanya sulit banget untuk orang Indonesia buka pikiran sedikit tentang seks, tapi selalu diomongin kaya ngga ada hentinya. Ya, kaya yang saya bilang tadi, karena mesum makanya jadi guilty pleasure dan mereka seneng akan "kemesumannya", bukan esensi atau guna dari seks itu sendiri (reporduksi, harmoni, dan filosofi-filosofinya) plus, mereka bersikap munafik akan kesenengan mereka dari "kemesuman" itu. Ini yang saya ngga suka dan contoh kasusnya udah kebanyakan. Kalau pandangan kaya gini terus yang kita pegang, ga akan ada hentinyalah kasus macem "Pesta Seks Bocah" begitu dan yang jelas dengan begitu generasi penerus kita rusak.

Monday, March 14, 2011



Prakata: Menurut saya ini aga kompleks dan isu yang dibahas sepertinya macam-macam. Ingin mencoba mengubek-ubek tema cinta, penghiantan, dosa, agama Shinto, dan apapun yang menurut pembaca bisa temukan disini. Pada akhirnya interpretasi ada dipikiran pembaca masing-masing. Kalau tertarik, boleh didiskusikan di kolom komen :D
(Salah satu isu yang dibahas juga mungkin adalah penulis kebanyakan main "Shin Megami Tensei: Persona 4" *jujur* =__=;)



***


"Teng... Teng..." bunyi giring-giring.


Ia memandang cermin di rumah kosong itu. Rumah yang berantakan dengan barang-barang berserakan. Furnitur dimana-mana. Ruangan itu gelap gulita pula dan air bocor menetes, menjadikannya lembab.Tidak terkoodinir. Dipolusi debu dan kotoran. Tidak indah. Tidak suci.

"Tidak lagi..." ujarnya. Bersahutan dengan giring-giring yang entah berbunyi darimana.

"Ah, perasaan apa ini..." ujarnya seraya memandang wajahnya di cermin retak. Ia merasa bengah dan jenuh. Kosong. Ia tidak lagi bisa marah. Ia tahu setelah bencana itu wajahnya tidak lagi cantik jelita. Sayatan dimana-mana. Ia bisa dengan jelas melihat kerangka dibalik dagingnya. Kalau dulu pipinya merekah, sekarang penuh darah. Ia terluka badan dan hati. Berantakan.

"Kulahirkan anak-anaknya." katanya, "Aku korbankan diriku lebih dari seorang wanita sampai sakit. Aku baginya hanya objek. Rahimku ini hanya tempat bagi organ lebih tubuhnya itu supaya terangsang. Bajingan."

Lalu ia mencoba tersenyum. Tetapi senyum itu malah jadi seringai. Tentu saja karena bibirnya sudah terkoyak habis. Hanya ada otot dan gigi.

Dari memorinya, terpantul bagaikan film di cermin. Terlihat ketika pria itu, yang ia pikir mencintainya. Berkata padanya yang tengah berbaring di bangsal rumah sakit, "Anak-anakmu dan aku tak akan lagi melihatmu. Kau hina dan jelek. Aku akan pergi meninggalkanmu."

"Kusumpahi kau!" balas wanita itu dengan segenap tenaga, "Kusumpahi demi 1000 orang yang mati tiap hari!"

Dan wanita itu tertawa. Tertawa sekeras-kerasnya. Tawanya terpantul keseluruh tembok di rumah tua dan jelek itu. Seperti distorsi. Menusuk-nusuk setiap permukaan. Akhirnya sampai puas ia berhenti dan menyeringai lagi.

"Sedih bukan? Harus terkurung rumah yang ditinggalkan. Yang waktu itu dilanda kebakaran. Seperti menerima beribu-ribu kematian yang tiap hari datang. Kematian-kematian yang sangat tidak menawan."

Sakit dan kecelekaan memang tidak pernah suci. Kematian apalagi. Temannya sekarang hanya serat-serat dendam yang masih menggantung di udara rumah itu. Bersama juga dengan abu-abu hangus yang mengotori tembok rumah, melambangkan rasa jahat dan ketidakmurnian.

"Teng... Teng..." bunyi giring-giring.

Sesosok pria berbadan tegap terpantul juga di cermin itu. Yang telinganya daritadi mendengar desahan dendam wanita tadi. Yang tangannya berada membasuh pipi penuh darah wanita itu. Yang dagingnya berbentur dengan daging wanita itu seperti koyak-koyakan yang bertumpuk.

"Kamu cantik, Nami..." katanya.

Wanita itu diam saja. Kuku-kuku panjang pria itu bisa dirasakannya nyaris mengoyak dagingnya hanya saja kalau ia tidak perlahan-lahan menyentuhnya. Si wanita memejamkan mata.

"Dulu suamiku bilang begitu."

"Dia bukan suamimu lagi," balas pria itu pelan, "Sekarang aku suamimu. Aku yang sama tak menawannya denganmu. Suamimu tak sengaja meninggalkanku disini. Ia tidak tahu betapa menginginkanmu. Ia sudah kalah. Biarkanlah ia menikmati ribuan hidup, kau dan aku lebih kekal."

Suara pria itu begitu dalam. Sedalam kegelapan. Ia tahu ia sudah jatuh kegelapan setelah dirinya jatuh sakit, berubah seperti mayat, lalu dikhianati, dan akhirnya menumbuhkan dendam. Ia tahu ia tidak bisa kembali.

"Pada akhirnya semua orang akan jatuh kedalam tempat seperti ini. Seperti kau dan aku." lanjut pria itu,  "Kau adalah ratu tempat ini, Nami, dan aku akan memberikan bukti padamu. Kau hanya perlu menunggu kematian orang-orang itu. Aku yang akan membuat mereka mati. Mencelakai mereka, menyakiti mereka..."

"Mengapa kau begitu yakin?" tanya wanita itu.

"Karena kalau kau adalah kematian, maka darikulah lahir segala sesuatu yang jahat," jawabnya. Lalu dengan satu gerakan, ia meletakkan lutut penuh korengnya ke lantai dan menghadap wanita itu seolah ia lebih agung. Mengangkat tangan kirinya yang jari manisnya sudah tiada lalu menciumnya.

"Aku dan engkau sama. Kita tidak disukai manusia dan Tuhan. Lihat suamimu, ia meninggalkanmu, bukan? Karena ia masih tinggal di dunia yang normal. Kita sama-sama abnormal. Kulit kita terkoyak digerogoti belatung. Kita meninggali gedung apartemen tua yang dikira berhantu ini. Aku, kamu, tempat ini sama. Sama-sama dijauhi."

Giring-giring berbunyi lagi. Kali ini berirama konstan. Menambah intensitas. Membuat tempat tua dan lusuh itu jadi mengerikan. Mendatangkan ruh-ruh yang membuat perasaan tak enak.

"Aku meninginkanmu, Nami. Biarlah aku yang melengkapi kekuranganmu itu. Di tempat ini... Kita saja..."

"Maga..." panggil wanita itu ke pria yang menghadapnya. Wanita itu meninggalkan cermin. Menggenggam pundak pria itu yang membaringkannya ke lantai lembab yang kotor dan berlumut. Pria itu mulai menciumi luka dan nanahnya. Wanita itu tidak pernah merasa lebih kotor dari ini dan ia merasa puas akan hal itu.

Lonceng berbunyi tiada henti. Wanita itu mendesah bersamanya.

Godaan yang paling cantik adalah godaan yang paling jahat. Karena jahat, maka ia tidak pernah cantik. Karena jahat adalah polusi.

Saturday, March 12, 2011

Pre note: One of the character from my favorite game Soul Calibur, Sophitia is having her birthday today. Geeky happiness aside, let's put her name into this article and aspects of our lives, Divine Wisdom. :)

Singapore, 12 March 2011

My heart is in Japan... ;A;

Well, it's been in Japan before this happened by after all the earthquake and tsunami, I'm getting worried about Japan even more. Not only Japan. The whole world in general.

At first, when I received the news at my Theater Aesthetic class (which totally distracted me when I was in full focus of the class) I thought that, "Oh, it's been a long time since Japan hit by a huge earthquake. They should be ready." Not so long after that, I read Japan's warning issue to several other countries like Hawaii, Philippines, and Indonesia. Then I thought, "That must be bad." I went home, I started looking for news. The very first footage was released by Aljazeera's YouTube account and I swear I started to tremble.

More footage and photos posted on news sites from all over the world. It was the worst since 2004 earthquake and tsunami that hit Aceh. At the time, Aceh was almost drowned from the map literally, and it affected surrounding towns on Northern Sumatra and it almost reached Aceh and Medan's border. This time. Almost the whole Japan is affected and all the Eastern coast are swept away.

I can't even think of "this is the country of my idols and fun are" anymore.

It's downright devastating. The thing is I can count similar "annual" disasters that had been occurred in this past 5-6 years. Aceh tsunami, Katrina (though it caused by the tropical cyclone cycle rather than moving earth plate, still it was the worst in past few years), Haiti, Chile... and I can count several others more in my own home country. Perhaps because Indonesia got too much disasters, I empathize to Japan. It's frightening.


My best friend has a Japanese friend in college. She said that he was just arrived at Jakarta from Japan earlier than planned in order to surprise his friends in Indonesia. The next day, tsunami happened. He is in the difficulty of contacting home right now. I even actually planned a trip to Japan this summer with my classmate. A homestay like program while learning Japanese. I even intended to visit Disneyland and I've been missing that place so much for the whole month.

I suddenly felt very lonely. I don't know. Perhaps, I was being a human for a moment. I seriously can't think of anything and simply thought, "We had too much like this already, and this is one of the worst". I guess what all people say about "Whatever on earth is temporary. When God wishes them away and away they'll be."

I was lonely when the Aceh earthquake occurred too. This time figuratively and literally. Warnings were all over the country. My brother was at a camp, my parents are on pilgrimage and Mecca was flooded on the very Eid'al Adha day. I was with my Grandma at our home on Bandung. Bandung is a high terrain and on the centre of Java so logically it saves us from tsunami. But still...

Some of the US fellows are also haunted by this creepiness since they went through Katrina. And from what I read in the news at the time, Katrina's post-disaster wasn't a very good one either. It's like a little drawings of "what will happen on the apocalypse". That might sounds sort of hyperbolic, but that's the closest term I can find about it.

Yet, Japanese people don't loose their faith. I follow some Japanese musicians on twitter. They spread help. They communicate to one another. They support their victims. They also spread comfort messages about how "don't forget to smile", "please help those in stress/trauma" and all things similar. According to an Indonesian who live in Japan. Japan is also came prepared. They have known their country is vulnerable to disasters since a very, very long time. They worry, they are frightened, but they are not panic. It's touching to see my twitter timeline filled with compassion.

Though damage and victims are still inevitable. It's horrifying to read "hundreds unreported bodies are found along the coast".

Then comes the debate of "Japan deserves it" and such. Hold your horses there. I know Japan did horrible things like guro, hentai, lolicon, AVs, junior idols, Nanking Massacre and Unit 731. But hey... Every country did some shit. It's not just Japan. Maybe the shit were exposed all over the world, maybe only the citizens of the country know about this shit, or maybe the shit is covered as good deed with good publication. But either way, we are humans. At some point we do bad things. Country is a massive land with massive human population. A massive shit will be done.

Then we should remember again that; this is a natural disaster. It can happen to anyone, anywhere. Just think of HIV/AIDS. But in larger scale. We need no prejudice here. We need support.

So... It's not just about Japan. It's about us, humanity. At least we express our concern, even if we can't do anything to help. But if you're willing to, there will always a way to help. Hasn't Mother Earth warn us enough this past few years?

And a note for you fangirls and fanboys, you Japanophiles, especially we know there's the "holy ground" of our entertainment. It's not because "my otaku business is safe or not". It's not the time to think certain ground's safety only.

I think that's for tonight. Let us give our hearts to Japan, to the world.

こんな時もがんばりますよ、日本。ここから自活して。世界の皆さんもこの当事考えてありがとう。
おやすみ~

Sunday, February 6, 2011

Aku berteriak "Kembalilah!" tapi ia tidak dengar. Di depan kami ada kaca tebal yang daritadi tak berhenti kugedor-gedor. Sudah berkali-kali kucoba pecahkan kaca itu dengan apapun, tetapi aku tetap tidak bisa menggapainya.
Ia sendiri tidak mau, aku tahu itu! Ia tidak mau ditelanjangi dan dijadikan ringan. Lalu diterbangkan ke udara bak balon helium. Cipratan darah dan air mata mengalir disekelilingnya menjadi butir-butir mutiara yang beku oleh waktu. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya, menangis, mencoba berenang kearahku tetapi bagaimana pun kami tidak bisa saling menggapai.
"Mereka bunuh keluargaku, Ada! Mereka membiarkankanku jadi sendiri, merubahku jadi manusia balon yang bisa terbang melewati waktu." katanya dari balik kaca, "Aku tidak mau ini, Ada. Aku mau keluargaku, aku mau kakakku. Aku mau pulang!"
"Aku mendengarmu, Maya. Tapi apa yang bisa kulakukan. Aku ada dibalik kaca seberat apa aku ingin menolongmu."
Dia menangis semakin kencang. Mengais-ngais kaca yang membatasi kami, menggaruk-garuknya kencang. Rintihannya mulai mengeras ketika ia juga mencoba memukul keras kaca itu dengan tangannya yang begitu rapuh dan seputih bunga bakung. Dia mendorongnya. Tapi tidak bisa. Kaca itu tidak juga pecah. Kadang angin menerbangkan tubuhnya itu, lalu ia harus mengayuh-ayuh tangannya lagi menuju kaca yang membatasi kami.
"Tolonglah aku, Ata! Tolong aku! Aku sungguh ingin pulang ke keluargaku. Seperti yang kau ingat dihatimu. Lakukanlah sesuatu!"
Aku tidak sanggup melihat Maya menangis begitu keras. Maya yang aku kenal dari umur 10. Maya yang manis, naif, dan polos. Maya waktu itu baru 13 tahun. Walau baru beranjak remaja, Maya bisa manja. Terutama pada kakaknya. Kakak perempuannya yang cantik jelita bernama Sanya. Maya selalu bersembunyi dibalik figur Sanya yang semampai, memeluknya dari belakang dan tertawa bersamanya. Sanya mirip sekali dengan Maya, hanya saja lebih dewasa.
Dan aku tidak tahu bagaimana aku harus mengembalikan Sanya dan suaminya, Arman yang telah menjadi figur ayah untuk Maya. Mereka sudah mati dibunuh oleh orang-orang asing dengan seragam hitam dan senapan api. Halaman waktu Sanya meninggal tidak ada di bukuku maupun buku Maya. Sudah kucoba beragam cara untuk mengembalikan Sanya dan Arman. Aku menulis dibuku petuahku, dengan pena ajaibku, menulis dan menggambar bagaimana Sanya dan Arman akan hidup kembali dan menjemput Maya. Tetapi tidak bisa. Tidak berhasil. Maka kuambil zat-zat misterius dari pulau Fuledonia, kugabungkan dengan telur anakonda, dan sayap kupu-kupu. Kuikuti resep dari buku penyihir yang kubeli di Kinokuniya minggu lalu. Kuucapkan mantra dan doa. Berharap ini akan mengembalikan kebahagiaan pada Maya. Tapi tidak bisa juga. Tidak bisa juga.
Kaca itu! Kaca itu harus dipecahkan dulu! Semua sihir dan usaha yang kulakukan pasti akan berhasil jika saja kaca itu tidak membatasiku dan Maya. Aku hanya perlu itu! Tapi apa, apa yang bisa memecahkan kaca ini yang begitu tebal dan cembung. Membatasi aku dan Maya yang sama-sama ada diujung harapan.
"Baiklah, Maya! Aku akan menolongmu. Aku keluargamu juga dan keluargamu adalah keluargaku. Aku akan mengembalikan Sanya dan Arman padamu. Seperti yang pernah ada dihati kita berdua!"
Aku berdiri, kutinggalkan kaca itu. Aku mendengar Maya berteriak memanggil namaku dan bertanya mau kemana. Tenang saja, Maya. Aku akan selalu membelamu. Aku hanya perlu sesuatu.
Aku turun kebawah, melewati sebuah tangga kayu. Aku berbelok ke dapur. Mengambil itu. Parang panjang terbuat dari besi dan kunci inggris raksasa milik Ayah. Ayah pasti akan mengijinkanku. Ayah juga kenal Maya. Ayah tahu Maya adalah teman baikku dan aku tidak akan membiarkan teman baikku tersiksa.
Aku hampiri lagi kaca itu. Kaca kurang ajar yang membatasiku dengan Maya. Dengan semuanya. Dengan kebahagiaanku dan kebahagiaan Maya. Dasar kaca sialan. Sudah cukup! Aku akan membuatnya hilang dan membuat Maya dan aku menjadi tanpa batas dan saat itu juga akan kulakukan lagi satu sihir hebat yang akan membuat Maya pulang ke keluarganya.
Maya masih disitu, melayang-layang diangkasa. Wajahnya bingung meihatku membawa parang. Lalu dengan satu pukulan serius, kubentur kaca itu dengan parang ditangan. Maya terkejut, kaca itu retak kecil. Lalu sekali lagi kubentur. Masih retak kecil. Sampai akhirnya kuambil si kunci inggris yang jauh lebih berat dari parang. Kupukulkan kunci inggris ke kaca. Keras. Keras. Sekeras hidup Maya sekarang. Sekeras keringat dan air mataku. Aku tidak mau Maya sakit hati lagi. Aku tidak mau sakit hati.
"Ada?"
"Tenang saja, Maya! Kalau kupecahkan kaca ini, duniamu akan bocor ke duniaku. Kita akan bersama! Dengan begitu aku bisa mengembalikan Sanya padamu! Aku berjanji!"
Pecah.
Aliran listrik mulai bocor. Sebuah percikan energi elektrik keluar dari pecahan kaca. Ada sebuah cahaya. Sedikit lagi, sedikit lagi Maya akan datang padaku! Sedikit lagi!!!

Hitam.
Mati.
Kaca pecah dan dunia berubah hitam.
Tunggu? Apa ini? Kenapa...
Maya?
Maya? Maya, kamu dimana?
Maya? MAYA!?
"Adinda! Adinda! Kamu ngapain!? Masya Allah! Adinda!"
Apa yang...
"Ya ampun, Ibu! Ibu!! Adinda mecahin TV, bu!"
Apa yang terjadi? Kenapa Mbak Riyem begitu panik? Kenapa--
Kenapa jadi hitam! Mana Maya!? Mana Maya!? Tidak, tidak bisa begini, kembalikan Maya padaku! Aku ingin menolong Maya, aku harus menolong Maya! Aku meronta, aku tidak setuju. Kaca sialan! Kenapa kau menipuku!? Kenapa! Aku benturkan tanganku lagi kepadanya, mengoyaknya dengan tanganku sendiri, aku tidak peduli! Aku mau Maya! Aku mau Maya bahagia! Kembalikan Maya padaku!
"Adinda! Hentikan, Adinda!!!!"
Suara Ibu tidak akan menghentikan aku. Aku cuma mau Maya. Aku cuma mau membuat Maya bahagia, aku sudah hampir berhasil. Tapi kenapa? Kenapa malah begini? Kenapa malah jadi hitam dibalik kaca itu? Kenapa Maya sudah tidak ada lagi? Kenapa ada Ibu dan kenapa Ibu jadi ikut marah dan menangis? Aku yang seharusnya menangis. Aku yang harusnya marah. Aku ngga suka. Aku mau Maya...
"Adinda! Kamu ini apa-apaan sih! Lepasin tanganmu dari TV! Kamu ini dasar anak aneh! TVnya jadi rusak kan!? Lihat tanganmu itu! Sudah berdarah-darah!"
"Ngga mau!!! Aku mau Maya! Aku mau Mayaaa!!!"
Sekuat tenaga aku meronta dari pegangan Ibu. Ibu tidak mengerti, Ibu tidak akan pernah mengerti. Mereka semua tidak mengerti! Semuanya. Orang-orang berbaju hitam dengan senapan itu, kaca, semuanya. Mereka tidak mengerti lagi kalau orang ingin bahagia. Aku jadi sedih. Aku tertekan. Mereka menekanku. Jahat sekali...
"Udah ya kalau begini! Ibu bilang Ayah kamu ngga boleh main PS lagi!"
"Bu, Pak Udin sudah nunggu diluar..."
"Ayo, Adinda! Kita ke rumah sakit! Lukamu itu harus dijahit!"
Maya... Kembalikan aku pada Maya... Maya sendirian. Dia sendirian. Kegelapan itu akan memakan Maya. Menjemput Maya menuju ketiadaan. Maya... Maya...
Maya...
 

Copyright 2010 Sejuta Huruf Jatuh Habis Tersapu.

Theme by WordpressCenter.com.
Blogger Template by Beta Templates.